Bismillahhirrahmaanirrahiim
Allahummashalli ‘ala
Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi
Perkenalkan, saya
Muhammad Sufyan. Saya ikut gerakan dinar dirham sejak tahun 2011
akhir. Diawali dengan membaca buku Ilusi Demokrasi karya Bapak Ir.
Zaim Saidi yang sekarang menjadi Amir Amirat Indonesia. Perjumpaan
dengan beliau Bapak Amir Zaim Saidi bermula ketika salah seorang
kawan yakni Bapak Marsono Abdurrasyidi yang saya ditemui di Pasar
Tebet Jakarta Selatan, mengajak saya untuk datang ke Tanah Baru
Depok, yang menjadi markas Wakala Induk Nusantara, sebuah lembaga
yang mencetak koin dinar emas dan dirham perak.
Pertama kali tiba
Kantor Wakala Induk, di lantai 2, di mana Wirid Tarekat tengah
berlangsung. Wirid yang baru pertama kali saya dengar, sangat
berbeda, sangat terasa meresap ke dalam kalbu. Ada suasana hati yang
berbeda saat mendengar Wirid itu. Dipimpin oleh seorang Muqaddim,
yakni Muqaddim Abdarrahman Ricky Rachadi Soeriakoesumah, yang pada
saat itu juga merangkap sebagai Wazir dari Amir Zaim Saidi.
Ada Amir, ada Wazir,
ada Muqaddim, ada Tarekat. Ini bukan sebatas pencetakan koin dinar
emas dan dirham perak. Bakda Wirid percakapan berlanjut disertai
dengan hidangan teh manis dan martabak. Hidangan lahir yang begitu
nikmat setelah menyantap hidangan batin Wirid dan Tausiyah yang
diberikan oleh Muqadddim. Saya meminta kepada Amir sebuah salinan
dari Wirid untuk saya bawa pulang. Amir menceritakan kepada Muqaddim
perihal keinginan saya dan alhamdulillah memberi izin. Di dalam buku
Wirid itu tertulis, barang siapa yang membaca Wirid tersebut dengan
izin seorang Shaykh atau seorang Muqaddam, maka Allah akan menyatukan
pada diri orang itu Syariat dan Hakikat. Muqaddim memperingatkan
bahwa barang siapa yang membaca Wirid tersebut tanpa disertai dengan
Amal, maka akan menjadi racun bagi orang yang membacanya.
Ada beberapa Amal
yang pada saat itu dilakukan. Salah satunya dan yang paling utama
adalah mengajak orang menerima dinar dan dirham. Pada saat itu, tahun
2011, di Depok Tanah Baru telah lebih dari 70 pedagang menerima dinar
dan dirham. Mulai dari toko kelontong sampai toko bahan bangunan.
Pola yang berlaku adalah: dirham dan dinar yang masuk ke toko
tersebut boleh disimpan, dibelanjakan atau boleh ditukarkan kembali
kepada rupiah di Kantor Wakala Induk Nusantara dengan potongan
sebesar 2%. Dengan jaminan tersebut, toko-toko penerima dengan
mudahnya menerima dinar dan dirham karena tidak takut kesulitan
manakala nanti memerlukan kembali rupiah untuk belanja kulakan
barang.
Saya mencoba
mengikuti Amal yang tersebut di atas. Berawal dari rasa ragu yang
kemudian tumbuh menjadi keyakinan manakala rupiah yang saya tukarkan
menjadi dirham dapat saya belanjakan di sebuah toko kelontong tidak
jauh dari kantor Wakala Induk Nusantara. Terasa begitu nikmat ketika
dirham berpindah dari tangan ke tangan untuk ditukar dengan sejumlah
komoditas rumah tangga yang menjadi keperluan hidup saya sehari-hari.
Pada saat itu saya menjadi seorang pekerja di sebuah kantor di
Jakarta Selatan. Dalam beberapa bulan berturut-turut, saya rutin
menukarkan rupiah ke dirham setidaknya 10 dirham perak untuk segera
saya belanjakan. Kenaikan nilai tukar dinar dirham yang terus naik
sempat menggoda saya untuk menimbun. Namun sesuai petunjuk dari Amir:
“belanjakan dirham Anda sampai habis, kemudian tukar lagi dan
belanjakan lagi.” Ini adalah nasihat yang sangat berharga. Begitu
juga petunjuk dari Muqaddim Abdarrahman: “hati-hati, bau dari emas
dan perak bisa membuat orang jadi gila.”
Dalam
perkembangannya waktu itu, banyak orang mendatangi Wakala memang
sebatas untuk keperluan investasi. Nilai tukar dinar emas dan dirham
perak yang terus ‘meningkat’ telah menggoda orang untuk menukar
rupiahnya menjadi dinar dan dirham dengan harapan suatu saat jika
perlu rupiah maka dinar dan dirham itu dapat kembali dirupiahkan
dengan nilai yang sudah naik dari harga yang dulu dibeli. Praktek ini
berjalan beberapa waktu sampai pada suatu ketika terbit maklumat dari
World Islamic Mint, sebuah lembaga yang berada di atas Wakala Induk
Nusantara untuk menghentikan kegiatan buyback koin dinar emas dan
dirham perak.
Dimulailah masa
penerapan dinar dan dirham tanpa adanya buyback. Satu demi satu
pedagang penerima dinar dan dirham berhenti menerima dinar dan
dirham. Amir Zaim Saidi berjuang dengan sekuat tenaga mengumpulkan
semua orang yang sudah tersaring dari motif investasi. Ya. Investasi
memang bukan tujuan dari pencetakan dinar dan dirham. Dinar dan
dirham bukan untuk investasi tapi untuk digunakan sebagai uang, untuk
membayar zakat mal, untuk mahar dan untuk dihadiahkan. Kegiatan Wirid
mulai digiatkan. Kajian muamalah mulai dirutinkan. Pembahasan
buku-buku dari Shaykh Abdalqadir as-Sufi mulai dilakukan. Kini
kegiatan itu telah berkembang menjadi Sekolah Muamalah dengan
kegiatan rutin di hari Sabtu dan semakin banyak yang hadir,
alhamdulillah.
Amal terus
berlanjut. Festival Hari Pasaran sebagai kegiatan dengan tujuan utama
untuk mengedukasi pengetahuan muamalah terus dilakukan. Dalam
kegiatan itu dibangkitkan beberapa Sunnah sekaligus. Pertama,
transaksi yang adil dengan dinar dan dirham, yakni harta ditukar
harta. Kedua, zakat mal yang harus dibayarkan dengan dinar dan
dirham. Ketiga, pasar Sunnah, tanpa sewa tanpa pajak. Siapapun yang
terlibat dengan kegiatan ini, mendapatkan berkah dan kenikmatan yang
begitu besar tiada terkira. Pulang ke rumah dengan hati riang,
mendapatkan banyak komoditas yang bagus-bagus dan unik-unik, dan
dibayar dengan dinar dirham, uang sejati, yang menjadi obat dari
penyakit jiwa yang bernama kapitalisme.
Demikianlah yang
dinamakan Amal. Tidak untuk ditunda, melainkan untuk dilakukan
sekarang dan di sini. Kendatipun berupa sebuah kegiatan yang
dilakukan di waktu tertentu, namun besarnya barokah yang didapat
benar-benar laksana secercah cahaya di tengah kegelapan malam yang
gelap gulita, dan ketika ada seseorang yang menyalakan sebatang korek
api, maka dapatlah terlihat keadaan sekeliling kita. Keadaan yang
sangat rusak, tidak adil, penuh dengan kejahatan, kejahatan yang
sangat jahat, yakni kejahatan riba. Keadaan ini hanya dapat dipahami
oleh orang-orang yang ber-Amal, yang bergerak, yang bertransaksi
dengan adil dan taat terhadap ketentuan-ketentuan Syariat yang dijaga
oleh Amir, terutama dalam ketentuan standar berat dan kadar koin,
yang selama ini banyak dilanggar oleh orang-orang bermotif investasi,
yang tidak mengerti tujuan di balik pencetakan koin dinar dan dirham.
Perjuangan Amir Zaim
membuahkan hasil. Dengan lebih menekankan bahwa dinar dan dirham
utamanya adalah untuk membayar zakat mal yang berarti menghendaki
keberadaan otoritas yang memungut. Otoritas itu adalah Amir di
tingkat lokal dan Sultan di tingkat yang lebih tinggi. Amir Zaim dan
kawan-kawan, dengan petunjuk dari Shaykh Abdalqadir as-Sufi, tanpa
lelah mendatangi Sultan-sultan di Nusantara untuk menyampaikan
risalah singkat mengenai Sultaniyya. Sultaniyya adalah sebuah buku
kecil yang berisi materi Sultaniyya. Buku ini juga telah diterbitkan
bersama buku-buku pendukung praktek muamalah lainnya. Bukan sebatas
menyampaikan risalah tapi juga mendukung para Sultan dalam menegakkan
Syariat muamalah dan rukun zakat dengan cara menarik dan membagikan
zakat, mendirikan pasar-pasar, baik yang dadakan ataupun yang
permanen guna menegakkan aturan muamalah di kesultanan-kesultanan
yang didatangi.
Angin sejuk
berhembus dari Kesultanan Bintan Darul Masyhur, di mana Sultan Bintan
Yang Mulia Sri Paduka Tribuana Sultan Haji Huzrin Hood, berkomitmen
mengembalikan kejayaan Kesultanan Bintan. Beliau mewakafkan sebidang
tanah untuk dibuat menjadi pasar terbuka, pasar tanpa sewa tanpa
pajak. Pasar terbuka ini adalah institusi terpenting dalam muamalah.
Muamalah dan kapitalisme adalah saling berlawanan. Institusi
terpenting kapitalisme adalah bank. Sedangkan institusi terpenting
muamalah adalah pasar terbuka. Kejahatan riba yang luar biasa ini
bersumber dari bank sebagai akar masalah. “Kita tidak perlu
mengebom bank. Yang kita lakukan adalah membuat bank menjadi tidak
diperlukan.” Demikian yang tertulis dalam Fatwa on Banking yang
dibuat oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo.
Kini
Kesultanan-kesultanan di Nusantara mulai bergerak. Kesultanan Bintan
Darul Masyhur, Kesultanan Kemangkunegerian Tanjung Pura, Kesultanan
Kasepuhan Cirebon, Kesultanan Ternate, Kesultanan Sulu, Kelantan dan
lain-lain.
Semoga Allah
subhanahuwata’ala memberikan kesehatan dan umur yang panjang kepada
Shaykh Abdalqadir as-Sufi. Semoga Allah subhanahuwata’ala
membesarkan gerakan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo. Semoga Allah
subhanahuwata’ala membesarkan lingkaran dzikir Shaykh Mortada
Elbomashouli. Semoga Allah subhanahuwata’ala memberikan karunia
yang besar kepada Amir Zaim Saidi dan amir-amir yang lain di seluruh
Nusantara dan kepada semua fuqara dan faqirat yang terlibat dalam
restorasi dinar dirham ini, restorasi muamalah, restorasi Syariat,
restorasi Sultaniyya.
Amin, amin Ya Rabbal
‘Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar