Selasa, 30 Agustus 2016

MENGAKUI KEJENIUSAN BARAT DALAM HAL MENYAMARKAN RIBA SEBAGAI KEMAJUAN TEKNOLOGI


Riba adalah hal yang dinyatakan oleh Allah subhanahuwata'ala untuk diperangi. Dosa dari melakukan perbuatan riba juga sangat besar dan hanya kalah oleh dosa syirik. Sebagai alternatif riba, Allah telah menghalalkan perdagangan. Orang pemakan riba tidak dapat berdiri tegak melainkan seperti berdirinya orang yang kesurupan.

Riba telah dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut di antaranya kemajuan teknologi, ketersediaan listrik, dan kemudahan hidup. Sehingga, meninggalkan riba didentikkan dengan keinginan untuk kembali 'hidup di hutan' di mana tidak ada teknologi, tidak ada listrik dan tidak ada kemudahan hidup.

Mari kita tengok keadaan sebelum riba merajalela.

Riba telah ada sejak dulu. Lintah darat adalah musuh masyarakat yang diberantas oleh pemerintahan di mana pun. Zaman yang dimaksud adalah jaman sebelum Revolusi Perancis di tahun 1789. Pada saat itu masyarakat hidup dalam komunitas-komunitas yang diikat oleh kekeluargaan, kedaerahan, keagamaan atau ajaran tertentu dan lain-lain. Mereka mengembangkan berbagai kebudayaan dan kesenian termasuk juga teknologi. Aneka peralatan pertanian adalah bentuk-bentuk dari penemuan teknologi dalam bidang pertanian. Juga dalam hal pembuatan pakaian dengan ditemukannya alat tenun dan juga dalam pembuatan makanan juga dalam hal ilmu pengobatan dan lain-lain. Berbagai macam produk yang bervariasi telah dibuat dan masyarakat berkembang. Perdagangan, Muamalah dan pilar-pilarnya.

Kedatangan kapitalisme telah mengambil alih kepemilikan atas usaha-usaha dan teknologi itu. Dari asalnya sebuah unit usaha dimiliki oleh banyak orang, menjadi banyak orang dikuasai oleh satu orang yang memiliki sekian puluh ribu jiwa sebagai buruh. Riba juga telah menghalangi teknologi tertentu untuk berkembang karena dianggap tidak memberi keuntungan bagi berkembangnya kredit. Salah satu contoh kasus adalah sebagai berikut:


Sebagai penutup, marilah kita simak kuliah dari Shaykh Umar Ibrahim Vadillo tentang Muamalat Masterclass Lecture 2. Penjelasan tentang kejeniusan Barat sebagai 'master of disguise' yang dengan pandai menyamarkan riba sebagai kemajuan teknologi, dibongkar dan dijelaskan dengan gamblang. Dengan mengakui kehebatan musuh, dapatlah mengetahui di mana kelemahan musuh sehingga kita tidak lagi menganggap meninggalkan riba sebagai kembali ke hutan.

Minggu, 14 Agustus 2016

Website Amal Madinah

Website Amal Madinah ini sumber utamanya diambil dari web Hajj Aisha Bewley yang beralamat di http://bewley.virtualave.net 

Kegiatan penerjemahan web Amal Madinah ini ke dalam bahasa Indonesia dilakukan secara sukarela. Bagi yang berminat menjadi sukarelawan, agar mengirim email ke sofiyan22 [at] gmail [dot] com

Semoga Allah subhanahuwata'ala membalas kebaikan sedekah ilmunya dengan pahala yang tidak terputus. Amin, amin ya Rabbal 'alamin.

Kegiatan di Tembeling

Ini cerita dari tembeling. Diawali dengan menginap semalam di tembeling, dengan makan terlebih dahulu kenyang-kenyang dari rumah dan supaya tidak terlalu banyak bekal yang dibawa. Malam datang menjelang diiringi suara katak dari kolam azola yang selalu basah menemani sepanjang malam kami di tembeling dengan suara katak sampai pagi hari, membuat tidur malam kami tidak terlalu pulas, lalu bangun di pagi hari dengan memohon ridlo Allah dan shalat subuh, dilanjutkan dengan membaca wirid dan diwan untuk kemudian mendapatkan perenungan mengenai apa yang selanjutnya harus dilakukan. Pagi hari hujan deras di tembeling gerimis, dilanjutkan dengan sarapan bagi yang ingin sarapan, orang-orang mulai berdatangan untuk kemudian mengambil peran memakmurkan lahan wakaf imaret tembeling dengan kegiatan bertani, santapan dan hidangan menemani sampai siang hari dan tiba waktu kami untuk meninggalkan imaret tembeling. Inilah pengalaman kami.
santap sahur dengan kurma dan air putih
kayu siwak untuk menggosok gigi
hamparan sajadah di tengah kegelapan Subuh
Gerimis Hujan di pagi hari menambah syahdu suasana
Sarapan nasi lemak
makan siang bersama
makan siang bapak-bapak
singkong medan ubi roti sedaap

Kamis, 11 Agustus 2016

Hubungan Amal Madinah dengan Bulan dan Matahari

Bulan adalah penanda pergantian tanggal sedangkan matahari adalah penanda pergantian waktu. Bulan berurusan dengan pergantian bulan baru yaitu dari tanggal ke-29/30 ke tanggal 1 bulan berikutnya, lalu dari tanggal 1 kembali dihitung hingga mencapai tanggal ke-29 untuk kemudian kembali ditentukan apakah keesokan harinya sudah masuk bulan baru atau belum berdasarkan pengamatan adanya hilal atau belum. Begitu seterusnya setiap bulan. Ini adalah Sunnah Amal Madinah.

Matahari adalah sebagai penanda pergantian waktu. Mulai dari munculnya garis tipis cahaya di sepanjang ufuk di pagi hari, sampai nampak bundaran matahari di atas ufuk (waktu subuh). Berlanjut dengan waktu Dzhuhur ketika ketinggian matahari mencapai puncaknya, lalu waktu Ashar ketika bayangan sebuah objek sama dengan tinggi objek ditambah bayangan objek itu pada saat matahari mencapai ketinggian puncak. Lalu berlanjut dengan waktu Maghrib ketika bundaran matahari menghilang di balik ufuk dan waktu Isya ketika warna merah dan kuning dari senjakala menghilang dari langit. Begitu seterusnya setiap hari. Ini adalah Sunnah Amal Madinah.

Secara mendasar, waktu shalat bergantung kepada pengamatan. Apabila tanda-tandanya tidak nampak, maka dibolehkan mengikuti ‘perhitungan astronomi’ untuk mengetahui waktu-waktu shalat. Tetapi dengan perhitungan astronomi ini, waktu Subuh dan permulaan waktu Isya tidak akan pernah dapat secara tepat diperhitungkan. (al-Mursyidul Mu'in)

Dalam Amal Madinah, perhitungan astronomi tidak memiliki tempat karena basis penentuan tanggal dan waktu adalah dengan pengamatan langsung terhadap bulan dan matahari.

Selasa, 09 Agustus 2016

Klinik Thibbun Nabawi Kesultanan Bintan

Klinik Thibbun Nabawi Kesultanan Bintan. Sedang dalam proses pembuatan dan pembangunan.


Senin, 08 Agustus 2016

Pentingnya Memiliki Guru Pembimbing

Oleh: Nurman Kholish

"Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulai-lah berguru kepadanya. Dialah yang menjadi pilihan Allah untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatakannya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya" (Syekh Abdul Qadir al-Jailani)

Jangan sampai kita merasa puas setelah mendapatkan guru,
baik sewaktu di kampung maupun di kampus.

Inilah salah satu kiat dari Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani agar kita dipertemukan oleh Allah dengan seorang guru yang dapat membimbing kita untuk bertemu dan mengenali-Nya.

Dalam kitab “Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilaihi al Abrar, beliau berkata: “Jika kita (ingin) berguru kepada seseorang untuk sampai kepada Allah, maka ikutilah saran ini, ‘Hendaklah kita berwudlu dengan sempurna, pikiranmu penuh khusyu’, dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudlu saja. Setelah itu, barulah kita bershalat. Kita membuka pintu shalat dengan wudlu yang telah kita lakukan sebelumnya, kemudian kita membuka pintu istana Allah dengan shalat. Apabila kita telah menyelesaikan shalat, tanyakanlah kepada Allah melalui bisikan hati, tentang: Siapakah yang patut kita contoh sebagai pembimbing dan guru kita?

Siapakah yang benar-benar dapat menyampaikan ajaran Allah kepada kita ? Siapakah orang yang menjadi pilihan-Nya? Siapakah khalifah-Nya? Siapakah wakilnya ?

Allah maha pemurah, kelak pertanyaan yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi bahwa Dia akan mendatangkan ilham ke dalam hati kita. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam diri kita, yaitu petunjuk yang paling dalam, yang disebut Sirr. Allah akan memberikan kepada kita tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan terbuka untuk kita. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari, pasti akan mendapatkannya, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan orang-orang yang bermujahadah (dalam perjalanan) menuju Kami kelak Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan agar sampai (yang menyampaikan mereka) kepada Kami’ (al-Ankabut : 69).

Segala keputusan ada pada diri kita masing-masing, pada hati kita yang diberi cahaya kelak. Kita sendiri yang akan memutuskan, bukan orang yang akan kita jadikan guru. Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulai-lah berguru kepadnya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatakannya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya.

Dalam majelis atau bimbingannya, kita tidak perlu tergesa-gesa berbicara dan menarik perhatiannya. Perhatikan kearifan yang bermanfaat yang dikerjakannya kepada Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai bukti-bukti Ketuhanan. Hendaknya kita bersedia menerima apa yang Allah akan sampaikan melalui seseorang yang bertindak sebagai pembimbing bagi umat. Tumpukanlah perhatian kita kepadanya. Jangan sekali-kali melanggar perintahnya atau melampaui batas-batas yang ditentukannya.

Hendaknya kita mendengar kata-katanya dengan penuh khusyu’ dan tekun. Jangan sampai kita merasa syak dan berburuk sangka terhadap perlakuannya, karena semua itu muncul dari dalam ruhaninya. Anggaplah ia lebih bijaksana daripada orang lain, dan biarkanlah dia membimbing kita menuju Allah dalam keadaan tenang dan tenteram, asalkan tujuannya mestilah Allah semata, dan bukan selain Allah. Ikutilah saran-saran ini dengan baik, semoga Allah akan membimbing kita ke jalan menuju pintu-Nya.

Sedangkan dalam kitab Fathurrabani, Syekh Abdul Qodir Jaelani mengutip perkataan gurunya yang mengatakan: ”Barang siapa yang tidak memiliki syekh (guru pembimbing), maka Iblislah yang menjadi syekhnya” dan ”Barang siapa yang merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, maka ia telah sesat”.

Senin, 01 Agustus 2016

Hardware, Software, Open Source dan Internet

Pada mulanya sebuah perangkat elektronik, untuk menjalankan sebuah instruksi, memerlukan sebuah perangkat yang dibuat tersendiri. Hal ini berdampak pada banyaknya komponen elektronika yang digunakan pada peralatan yang memerlukan banyak proses dalam kalkulasi.

Sebagai contoh adalah mesin buatan Prof. Alan Turing dari Inggris, untuk memecahkan kode mesin Enigma buatan Jerman, berukuran sebesar lemari dengan biaya yang dihabiskan untuk membuat mesin itu sebesar 100 juta pounds, yang dibuat selama dua tahun, dengan tujuan untuk memecahkan kode enkripsi yang dikirim oleh Enigma lewat jalur udara.

Dengan ditemukannya software, sebuah mesin pada sisi hardwarenya hanya memerlukan komponen utama prosesor dan memori. Adapun instruksi dan cara kerja mesin dibuat dalam berbagai bahasa pemrograman komputer yang diterjemahkan ke dalam bahasa mesin menggunakan interpreter.

Berawal dari menjual software sistim operasi komputer bernama DOS, Microsoft tumbuh sebagai raja di bidang software yang menguasai dunia software. Ia melakuan itu dengan cara menutup kode sumber dan menjadikannya sebagai proprietary. Dengan cara seperti itu, para pengembang software menangguk keuntungan yang sangat besar dari hasil penjualan kopi software yang mereka buat, yang terjual di seluruh dunia untuk software-software umum seperti operating system, word processor, dll.

Kejayaan pengembang perangkat lunak yang menutup kode sumber mulai terkikis manakala seorang yang bersedia dan rela dengan ikhlash mensedekahan ilmunya dengan membuat sebuah open source software bernama Linux. Open source memungkinan sebuah kode yang telah dibuat dikembangkan oleh pihak lain tanpa dipungut biaya dan bahkan boleh dijual ulang dengan syarat, kode hasil pengembangan tidak boleh ditutup sehingga tetap tersedia terbuka (open). Semenjak saat itu open source berkembang dengan sangat cepat bahkan sebagian mampu menyaingi closed source yang telah sejak lama dikembangkan dan dalam beberapa hal melebihi kemampuan closed source. Dengan dukungan komunitas yang saling berbagi, berbagai persoalan dalam kesulitan penggunaan open source software dapat diatasi.

Perangkat Minimal, Hasil Optimal

Dengan adanya open-source software, semua kalangan memiliki akses terhadap teknologi infomasi dengan biaya sangat murah. Hanya diperlukan kesungguhan dan ketekunan untuk belajar dari para master teknologi informasi yang dengan ikhlash mensedekahkan ilmu mereka dengan berperan sebagai penjawab berbagai pertanyaan di forum-forum komunitas yang tersedia di internet.

********

Ya, ilmu adalah sedekah. Dengan suburnya sedekah ilmu ini, Allah subhanahuwata'ala memusnahkan riba sebagaimana firman Allah dalam Qur'an:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah….”. (QS. Al-Baqarah:276)