Senin, 08 Agustus 2016

Pentingnya Memiliki Guru Pembimbing

Oleh: Nurman Kholish

"Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulai-lah berguru kepadanya. Dialah yang menjadi pilihan Allah untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatakannya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya" (Syekh Abdul Qadir al-Jailani)

Jangan sampai kita merasa puas setelah mendapatkan guru,
baik sewaktu di kampung maupun di kampus.

Inilah salah satu kiat dari Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani agar kita dipertemukan oleh Allah dengan seorang guru yang dapat membimbing kita untuk bertemu dan mengenali-Nya.

Dalam kitab “Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilaihi al Abrar, beliau berkata: “Jika kita (ingin) berguru kepada seseorang untuk sampai kepada Allah, maka ikutilah saran ini, ‘Hendaklah kita berwudlu dengan sempurna, pikiranmu penuh khusyu’, dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudlu saja. Setelah itu, barulah kita bershalat. Kita membuka pintu shalat dengan wudlu yang telah kita lakukan sebelumnya, kemudian kita membuka pintu istana Allah dengan shalat. Apabila kita telah menyelesaikan shalat, tanyakanlah kepada Allah melalui bisikan hati, tentang: Siapakah yang patut kita contoh sebagai pembimbing dan guru kita?

Siapakah yang benar-benar dapat menyampaikan ajaran Allah kepada kita ? Siapakah orang yang menjadi pilihan-Nya? Siapakah khalifah-Nya? Siapakah wakilnya ?

Allah maha pemurah, kelak pertanyaan yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi bahwa Dia akan mendatangkan ilham ke dalam hati kita. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam diri kita, yaitu petunjuk yang paling dalam, yang disebut Sirr. Allah akan memberikan kepada kita tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan terbuka untuk kita. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari, pasti akan mendapatkannya, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan orang-orang yang bermujahadah (dalam perjalanan) menuju Kami kelak Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan agar sampai (yang menyampaikan mereka) kepada Kami’ (al-Ankabut : 69).

Segala keputusan ada pada diri kita masing-masing, pada hati kita yang diberi cahaya kelak. Kita sendiri yang akan memutuskan, bukan orang yang akan kita jadikan guru. Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulai-lah berguru kepadnya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatakannya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya.

Dalam majelis atau bimbingannya, kita tidak perlu tergesa-gesa berbicara dan menarik perhatiannya. Perhatikan kearifan yang bermanfaat yang dikerjakannya kepada Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai bukti-bukti Ketuhanan. Hendaknya kita bersedia menerima apa yang Allah akan sampaikan melalui seseorang yang bertindak sebagai pembimbing bagi umat. Tumpukanlah perhatian kita kepadanya. Jangan sekali-kali melanggar perintahnya atau melampaui batas-batas yang ditentukannya.

Hendaknya kita mendengar kata-katanya dengan penuh khusyu’ dan tekun. Jangan sampai kita merasa syak dan berburuk sangka terhadap perlakuannya, karena semua itu muncul dari dalam ruhaninya. Anggaplah ia lebih bijaksana daripada orang lain, dan biarkanlah dia membimbing kita menuju Allah dalam keadaan tenang dan tenteram, asalkan tujuannya mestilah Allah semata, dan bukan selain Allah. Ikutilah saran-saran ini dengan baik, semoga Allah akan membimbing kita ke jalan menuju pintu-Nya.

Sedangkan dalam kitab Fathurrabani, Syekh Abdul Qodir Jaelani mengutip perkataan gurunya yang mengatakan: ”Barang siapa yang tidak memiliki syekh (guru pembimbing), maka Iblislah yang menjadi syekhnya” dan ”Barang siapa yang merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, maka ia telah sesat”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar