Oleh: Nurman Kholish
"Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulai-lah
berguru kepadanya. Dialah yang menjadi pilihan Allah untuk kita. Jangan
peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan
perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatakannya.
Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang
melekat pada dirinya" (Syekh Abdul Qadir al-Jailani)
Jangan sampai kita merasa puas setelah mendapatkan guru,
baik sewaktu di kampung maupun di kampus.
Inilah salah satu kiat dari Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani agar kita
dipertemukan oleh Allah dengan seorang guru yang dapat membimbing kita
untuk bertemu dan mengenali-Nya.
Dalam kitab “Sirr al-Asrar fi ma
Yahtaju Ilaihi al Abrar, beliau berkata: “Jika kita (ingin) berguru
kepada seseorang untuk sampai kepada Allah, maka ikutilah saran ini,
‘Hendaklah kita berwudlu dengan sempurna, pikiranmu penuh khusyu’, dan
matamu jangan memandang selain dari tempat wudlu saja. Setelah itu,
barulah kita bershalat. Kita membuka pintu shalat dengan wudlu yang
telah kita lakukan sebelumnya, kemudian kita membuka pintu istana Allah
dengan shalat. Apabila kita telah menyelesaikan shalat, tanyakanlah
kepada Allah melalui bisikan hati, tentang: Siapakah yang patut kita
contoh sebagai pembimbing dan guru kita?
Siapakah yang benar-benar dapat
menyampaikan ajaran Allah kepada kita ? Siapakah orang yang menjadi
pilihan-Nya? Siapakah khalifah-Nya? Siapakah wakilnya ?
Allah
maha pemurah, kelak pertanyaan yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa
ragu lagi bahwa Dia akan mendatangkan ilham ke dalam hati kita. Dia akan
memberikan petunjuk ke dalam diri kita, yaitu petunjuk yang paling
dalam, yang disebut Sirr. Allah akan memberikan kepada kita tanda-tanda
atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan terbuka untuk kita.
Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari, pasti akan
mendapatkannya, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan
orang-orang yang bermujahadah (dalam perjalanan) menuju Kami kelak Kami
akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan agar sampai (yang
menyampaikan mereka) kepada Kami’ (al-Ankabut : 69).
Segala
keputusan ada pada diri kita masing-masing, pada hati kita yang diberi
cahaya kelak. Kita sendiri yang akan memutuskan, bukan orang yang akan
kita jadikan guru. Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu,
maka mulai-lah berguru kepadnya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan
untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya,
wajah dan perawakan-nya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang
dikatakannya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan
keadaan zahir yang melekat pada dirinya.
Dalam majelis atau
bimbingannya, kita tidak perlu tergesa-gesa berbicara dan menarik
perhatiannya. Perhatikan kearifan yang bermanfaat yang dikerjakannya
kepada Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk
dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai
bukti-bukti Ketuhanan. Hendaknya kita bersedia menerima apa yang Allah
akan sampaikan melalui seseorang yang bertindak sebagai pembimbing bagi
umat. Tumpukanlah perhatian kita kepadanya. Jangan sekali-kali melanggar
perintahnya atau melampaui batas-batas yang ditentukannya.
Hendaknya kita mendengar kata-katanya dengan penuh khusyu’ dan tekun.
Jangan sampai kita merasa syak dan berburuk sangka terhadap
perlakuannya, karena semua itu muncul dari dalam ruhaninya. Anggaplah ia
lebih bijaksana daripada orang lain, dan biarkanlah dia membimbing kita
menuju Allah dalam keadaan tenang dan tenteram, asalkan tujuannya
mestilah Allah semata, dan bukan selain Allah. Ikutilah saran-saran ini
dengan baik, semoga Allah akan membimbing kita ke jalan menuju
pintu-Nya.
Sedangkan dalam kitab Fathurrabani, Syekh Abdul Qodir
Jaelani mengutip perkataan gurunya yang mengatakan: ”Barang siapa yang
tidak memiliki syekh (guru pembimbing), maka Iblislah yang menjadi
syekhnya” dan ”Barang siapa yang merasa cukup dengan pendapatnya
sendiri, maka ia telah sesat”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar