Sabtu, 30 Juli 2016

Petanya

Sebuah ringkasan pengajaran oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, TTDI. 2 January 2015 terjemah Muqaddim Malik Abdalhaqq Hermanadi
 
Subjek dari perkara ini adalah DIRIMU. Ini adalah ilmu kimia tentang diri. Dia yang sudah berada di jalan setapak ini tidak menilai orang lain, ia menilai dirinya sendiri. Dia-lah subjek eksperimennya. Cara azali mengenal diri melalui penemuan tentang siapa kamu sebenarnya. Sebuah ilmu yang memberimu keyakinan yang motor penggeraknya adalah cinta dan takut, tepatnya khawf – takut dan raja’ – harapan. 
 
Masalahnya tidak terletak di kepala, yang bermasalah adalah hatinya. Seseorang haruslah bertindak saat melihat perkosaan untuk melindungi sang korban, namun jika orang itu berkata, “Sebentar ya, saya mau menghabiskan minum kopi ini dulu”, maka dia hanya memahami masalah itu di kepalanya saja TIDAK dengan KALBU-nya. Jika saja ia memahaminya dengan hatinya, ia pasti bergegas dan memakai alat apa pun yang bisa diperolehnya untuk melindungi sang korban sebelum ia menyadari perbuatannya sendiri.
 
Kebersediaan dirimu untuk melakukan zina dengan ibumu sendiri jauh lebih buruk dari perilaku paksaan perkosaan. Ini derajat terendah dosa dalam perilaku RIBA. Hanya saja di masa ini RIBA adalah sebuah norma perilaku karena beratnya perkara ini hanya dipahami dengan kepala semata. Kepahamannya tidak mencapai KALBU hingga masyarakat mau berupaya berperilaku bertentangan dengannya. KALBUnya sedang sakit. Kita semua. Karena itu kita perlu memeriksa sendiri kalbu kita dan mencari obat penyembuhnya dari para Shuyukh. Itulah tugas seorang Shaykh, menata kalbu. Seseorang yang memiliki peta perjalanan keluar dari penyakit ini. 
 
Pertama-tama dirimu harus jatuh cinta kepada Rabb-mu. Bagaimana caranya? Dirimu tak usah bertanya bagaimana, dirimu tak perlu berpikir bagaimana. Lakukan saja. JATUH CINTA-lah. Seperti seorang meminta dirimu meminum segelas air. Dirimu tak perlu bertanya bagaimana cara minumnya, dirimu tidak usah berpikir bagaimana mengangkat gelasnya dan bagaimana memasukkan air ke dalam mulutmu, minum saja. Namun jika dirimu tak bisa jatuh cinta begitu saja, Shaykh Darqawi berkata, “Sebut terus asma Allah selama tiga hari setiap kali engkau membuka mulutmu untuk bicara”, jika setelah itu dirimu belum juga jatuh cinta, dirimu tidak punya keikhlasan. 
 
Cinta adalah alat pertama untuk mendekat kepada Allah. Dia yang mencintai Allah tidak peduli apapun selain Allah. Semua yang dilihatnya, segala yang ditengoknya, dia sambungkan pada Allah. Dengan cinta ia berlalu dari satu derajat ke derajat selanjutnya. Bagaimana cara dia untuk tahu dimana dia berada? Bagaimana dia mengukur kedudukannya? Melalui pintu menegakkan sharia cinta seseorang diuji. Ia menegakkan sharia karena takut kepada Allah. Shariat adalah apa yang diinginkan Allah. Seseorang tidak bisa mencintai Allah tanpa perduli apa yang diinginkan Allah.
 
Takut adalah alat dua dari dua terompah ini. Takut kepada Allah menyebabkanmu bertindak. Keduanya saling bergandengan sebagaimana shariat dan haqiqat. Hanya dengan mengambil tugas menegakkan shariat seseorang mengerti kedudukan spiritualnya. Seseorang yang tidak takut Allah tidak akan menggerakkan jarinya. Seseorang yang takut Allah mengambil bagi dirinya bagian tersulit pelaksanaan shariat. Di malam hari ia bertaubat pada Allah dalam Istighfar karena ia takut bahwa ia belum cukup bertindak di pagi harinya.
 
Yang paling buruk adalah para sufi jahil yang puas dengan diri-diri mereka sendiri. Jadi keadaan spiritual seseorang ditunjukkan oleh kemampuan mereka bertindak karena Allah. Allah tidak membutuhkan shariat, shariat adalah sebuah ujian bagi si salik untuk bertindak sesuai dengannya. Rumi berkata, “Jika Allah tidak berkehendak untuk menguji dirimu, Allah tidak akan menjadikan bagimu tubuhmu, tangan-tanganmu, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan. Allah pasti sudah menjadikanmu seperti malaikat”. Kita akan ditanyai di hari akhir berdasar apa yang sudah kita kerjakan bukan atas kedudukan spiritual kita atas alam gaib yang kita akan sibakkan.
 
Ini beberapa bait dari puisi Rumi, berjudul Listen! (Dengarkan!): ...Jangan duduk bersama berhala, bangun sekarang juga, lanjutkan perjalanan Jangan duduk tersesat dalam lamunanmu Bangun, pergilah menuju sang kekasih berada dengan satu kaki aku teguh berdiri dalam Sharia... …Tunjukan cintamu dengan amalmu, akhlakmu... 
 
Dari Pengajaran Rumi: Muhammad, salallahu alayhi wassalam, Allah pada mulanya menyibukkan dirinya seluruhnya hanya bagi-Nya; lalu selanjutnya Allah memerintahkannya, ‘Ajak manusia, nasehati mereka dan perbaiki mereka.’ Muhammad, salallahu alayhi wassalam, menangis dan meratap, berkata, ‘Ya Rabbi, dosa apakah yang telah kuperbuat? Mengapa Engkau mengusirku dari Hadirat-Mu? Aku tidak memiliki keinginan atas manusia.’ Allah Ta’ala berfirman kepadanya, ‘Muhammad jangan bersedih. Aku tidak meninggalkanmu agar bersibuk bersama manusia. Bahkan jika engkau berada dalam puncak kesibukan tugas itu engkau selalu bersama-Ku. Jika engkau sibuk bersama manusia, yang lamanya tidak selembar rambut kepala dari sejam yang engkau habiskan bersama-Ku ini, tidak selembar pun akan diambil darimu. Dalam keadaan apa pun engkau sibuk, engkau selalu berada bersama-Ku.’ 
 
Rasulullah ADALAH teladan kita. Dari qasidah berjudul ‘the Greater Song’ – Qasidah Akbar karya Shaykh Muhammad ibn al-Habib: ...Yang tertinggi yang dapat engkau sampaikan adalah melayani Mahluk Terbaik. Padanya-lah terletak perolehan kekayaan terbesar. Jangan malas, ikuti apa yang telah ditetapkan-Nya sebagai shariat, dan hindari gairah nafsumu. Karena itu adalah sumber kesedihanmu… 
 
Dari qasida berjudul ‘ The Buraq of the Tariq’ – Buraqnya Tariqat karya Shaykh Muhammad ibn al-Habib: Perpendek jalan setapak ini dengan memuliakan segala sesuatu yang telah ditetapkan sebagai shariat... Dari qasidah berjudul ’Stimulation of desire for the act of dhikr’ – ‘Menghidupkan semangat untuk melakukan dhikr’ karya Shaykh Muhammad ibn al-Habib : Rasul Allah senantiasa berdhikr di setiap waktu, dan menetapkan shariat bagi yang lain untuk diikuti. Cinta dan takut, shariat dan haqiqat , khawf dan raja’ dengan keduanya seseorang mendekat pada Allah, mencapai fana walau pun hanya sekali dengan hanya menyebut A-L-L-A-H. Apa yang utama bagi seorang salik adalah semakin mendekat pada Allah. 
 
Shaykh Umar berkata, “Jika kebaikan membawamu mendekat pada Allah maka itu positif. Jika keburukan membawamu kepada-Nya maka itu positif. Namun jika kebaikan membawamu menjauh dari Allah maka itu negatif. Dan jika keburukan membawamu menjauh dari Allah maka itu negatif.” Maka emas dan batu sama saja kecuali jika itu membawa seseorang mendekat pada Allah. 
 
Sebenarnya menegakkan shariat tanpa kepahaman haqiqat akan membawamu beramal tanpa takut Allah. Dirimu hanya akan mengambil apa yang nyaman dari shariat. Tanpa takut pada Allah Islam akan diubah, bukannya merubah dirimu, maka itu yang muncul adalah pendirian Bank-bank Islam. Satu sama lain saling membutuhkan.— Ditulis oleh Muhammad ibn Hakimi, dari Shaykh Umar Vadillo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar